Gempa susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu membuat kewaspadaan harus terus dijaga.
“Cukup prihatin karena setiap hari kami masih waspada mengingat gempa dan tsunami bisa terjadi sewaktu-waktu. Namun juga ada rasa haru karena tenaga kesehatan di sini sangat sigap,” katanya.
Ia mengaku bangga melihat tenaga kesehatan di Ende yang tetap bekerja meski mereka sendiri berada dalam situasi bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Para tenaga kesehatan lokal secara bergilir mendatangi posko-posko pengungsian untuk memastikan warga tetap mendapatkan pelayanan.
“Yang membuat saya bangga adalah semangat nakes di sini. Mereka langsung terjun ke posko-posko pengungsian secara bergilir setiap harinya,” ujar dr. Tya.
Kewaspadaan di pesisir Maurole bukan tanpa alasan.
Saat gempa utama berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya tsunami di sejumlah wilayah.
Di Maurole, Kabupaten Ende, tinggi muka air yang tercatat mencapai 0,94 meter.
Gempa utama terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan episenter di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dan kedalaman sekitar 15 kilometer.
Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik yang dapat memicu tsunami.
BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah tidak lagi mendeteksi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di wilayah pesisir terdampak.
Namun, aktivitas seismik belum sepenuhnya berakhir.
Hingga 19 Agustus 2026, BMKG mencatat 2.768 gempa susulan dengan magnitudo antara M1,1 hingga M6,2.
Kondisi itu membuat masyarakat dan para relawan masih harus hidup dalam kewaspadaan.
Di tengah situasi tersebut, keberadaan tenaga kesehatan menjadi sangat penting.
Ketika bangunan puskesmas tidak lagi dapat digunakan, pelayanan berpindah ke tenda. Ketika akses jalan terganggu, tenaga kesehatan bergerak mendatangi pengungsian. Ketika masyarakat kesulitan mendapatkan pangan, persoalan kesehatan pun ikut menjadi lebih kompleks.
Bagi dr. Tya, pengalaman bertugas di Maurole menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dalam situasi bencana tidak selalu membutuhkan fasilitas yang sempurna. Yang paling penting adalah memastikan tenaga kesehatan tetap hadir di tengah masyarakat.
Para relawan dari Malaka datang membawa peralatan dan kemampuan medis. Namun, di tengah ketakutan warga, kehadiran mereka juga menjadi bentuk dukungan bahwa masyarakat terdampak tidak menghadapi bencana seorang diri.
Dari Malaka ke pesisir utara Flores, para tenaga kesehatan itu terus bekerja di tengah ketidakpastian.
Gempa boleh merobohkan fasilitas kesehatan, tetapi pelayanan kepada masyarakat tidak boleh ikut berhenti.
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















