Laskarmalaka.com || Program Sister Puskesmas yang digagas Pemerintah Kabupaten Malaka,dibawah kepemimpinan Bupati Malaka, dr.Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu melalui Dinas Kesehatan mulai mengubah cara Puskesmas Biudukfoho memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Program yang semula berupa pembelajaran antarpuskesmas itu kini diterapkan dalam berbagai aspek, mulai dari pembagian tenaga kesehatan berdasarkan klaster, penataan ruang, sistem antrean, pengelolaan logistik, pelayanan luar gedung hingga pencatatan berbasis digital.
Perubahan dilakukan setelah Kepala Puskesmas Biudukfoho Beatus Setrinus Nahak mengikuti Program Sister Puskesmas di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada September 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beatus mengatakan, saat dirinya mulai bertugas pada April 2025, penerapan Integrasi Pelayanan Primer (ILP) di Puskesmas Biudukfoho belum berjalan optimal.
“Seharusnya ILP sudah dimulai sebelum 2025. Ketika saya bertugas April 2025, aromanya belum tercium. Penerapannya nyaris tidak ada, terutama pelayanan rawat jalan, pelayanan di luar gedung dan penataan ruangan,” kata Beatus saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, program Sister Puskesmas menjadi momentum untuk melihat secara langsung praktik pelayanan yang sudah berjalan di daerah lain.
Namun, sistem dari Gunungkidul tidak diterapkan secara mentah. Tim Puskesmas Biudukfoho memilih praktik yang sesuai, lalu menyesuaikannya dengan kondisi wilayah kerja mereka.
“Kami pergi untuk melihat, mendengar dan belajar. Hal-hal baik yang kami lihat kami bawa pulang, kemudian dimodifikasi sesuai kebutuhan dan langsung diterapkan,” ujarnya
Puskesmas Biudukfoho membagi tenaga ke dalam sejumlah klaster pelayanan. Pembagian tersebut dituangkan dalam surat keputusan, termasuk tugas dan koordinasi antar-klaster.
Penataan ruangan kemudian dilakukan mengikuti fungsi masing-masing klaster.
Sistem antrean juga diperbaiki. Setiap klaster dilengkapi mikrofon untuk memanggil pasien sehingga alur pelayanan menjadi lebih jelas.
Pasien yang datang tidak lagi hanya menunggu giliran, tetapi diarahkan berdasarkan kebutuhan pelayanan dan klaster yang dituju.
Perangkat pendukung seperti komputer, laptop dan meja pelayanan juga ditempatkan berdasarkan kebutuhan masing-masing klaster.
Bagi Beatus, perubahan tersebut bukan sekadar penataan fisik puskesmas.
“Dampaknya sangat terasa. Yang berubah bukan hanya ruangan, tetapi cara kerja, pembagian tugas, sistem pelayanan dan bagaimana masyarakat mendapatkan layanan,” katanya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















