Laskarmalaka.com || Gempa susulan masih terjadi di wilayah pesisir utara Flores ketika dr. Tya dan sejumlah tenaga kesehatan asal Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, tetap berada di tengah warga terdampak bencana di Kabupaten Ende.
Di Desa Ropa, Kecamatan Maurole, dr. Tya bergabung dalam Tim Cadangan Kesehatan (TCK) di bawah naungan Kementerian Kesehatan RI. Ia menjadi salah satu dari tujuh tenaga kesehatan asal Malaka yang dikirim untuk membantu penanganan warga terdampak bencana.
Penugasan itu berlangsung dalam situasi yang tidak mudah. Wilayah tempat dr. Tya bertugas berada di pesisir pantai utara Flores dan masih menghadapi gempa susulan serta kewaspadaan terhadap potensi tsunami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di sini kami menjadi Tim Cadangan Kesehatan yang dinaungi oleh Kementerian Kesehatan RI,” kata dr. Tya saat dihubungi dari lokasi tugas, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, hingga Rabu pagi, gempa susulan masih dirasakan di wilayah tersebut.
“Kami berada di pesisir Pantai Utara, sekitar satu jam dari Pulau Palue. Sampai pagi ini masih ada gempa susulan. Lokasi kami juga merupakan daerah yang harus tetap waspada terhadap potensi tsunami,” ujarnya.
Kondisi kebencanaan membuat pelayanan kesehatan di Kecamatan Maurole harus dilakukan dengan fasilitas terbatas.
Salah satu fasilitas kesehatan yang terdampak adalah puskesmas setempat. Bangunan puskesmas mengalami kerusakan berat sehingga pelayanan tidak dapat dilakukan seperti dalam kondisi normal.
“Puskesmas roboh sehingga pelayanan dialihkan ke tenda darurat,” kata dr. Tya.
Di tengah keterbatasan itu, tenaga kesehatan tetap bergerak mendatangi posko-posko pengungsian. Pelayanan dilakukan secara bergilir agar warga yang tersebar di sejumlah titik tetap memperoleh pemeriksaan dan pengobatan.
Pada Rabu (26/8/2026), tim kesehatan melayani sedikitnya 75 pasien. Sebanyak 72 pasien merupakan pasien umum, sedangkan tiga lainnya merupakan pasien kebidanan.
Keluhan yang paling banyak ditemukan meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), infeksi saluran pencernaan, pneumonia, dan penyakit kulit.
Kondisi pengungsian dan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan pelayanan kesehatan tetap tinggi.
Persoalan yang dihadapi warga tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. dr. Tya melihat masyarakat pesisir juga mulai menghadapi keterbatasan pangan. Sebagian warga selama ini menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari hasil laut.
Namun, aktivitas tersebut ikut terganggu setelah gempa.
“Biasanya masyarakat di sini makan dari hasil menjala ikan. Namun semenjak gempa, ikan tidak banyak yang terjala,” tuturnya.
Akses menuju sejumlah wilayah juga belum sepenuhnya normal. Beberapa titik jalan terdampak longsor dan material batu dari tebing yang runtuh menghambat perjalanan menuju permukiman warga.
Situasi tersebut membuat tim kesehatan harus menyesuaikan pelayanan dengan kondisi lapangan.
Mereka tidak hanya menunggu pasien datang, tetapi bergerak dari satu posko pengungsian ke posko lainnya untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Bagi dr. Tya, bertugas di tengah bencana berarti harus menjalankan dua hal sekaligus: memberikan pelayanan kepada warga dan tetap menjaga keselamatan diri serta tim.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















