Kondisi tersebut membuat banyak nelayan memilih tidak melaut demi alasan keselamatan. Hanya sebagian kecil yang tetap berani turun ke laut di tengah cuaca buruk.
“Biasanya musim hujan begini banyak yang takut melaut. Hanya satu dua orang saja yang berani,” tutur Filmon.
Ia mengungkapkan, titik paling berbahaya bagi nelayan berada di kawasan Muara Hasan Maubesi, Desa Fahiluka. Lokasi itu disebut kerap menjadi titik rawan kecelakaan laut akibat tingginya ombak dan kuatnya arus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di Muara Hasan Maubesi itu banyak perahu yang sering tenggelam. Ombaknya sangat keras,” ujarnya.
Menurut Filmon, tinggi gelombang di kawasan tersebut pada musim timur bisa mencapai lebih dari dua meter.
“Kadang ombaknya sampai dua meter lebih. Jadi kalau masuk dari sini harus sangat hati-hati, karena di muara itu yang paling sulit,” lanjutnya.
Muara Hasan Maubesi diketahui menjadi satu-satunya jalur keluar masuk bagi nelayan Kampung Nelayan menuju laut lepas.
Di tengah risiko besar tersebut, Filmon memilih tetap bertahan sebagai nelayan karena pekerjaan itu telah menjadi sumber utama penghidupan keluarganya. Selain melaut, ia juga bekerja sebagai petani sawah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Dalam seminggu biasanya saya melaut dua kali, kadang satu kali kalau ada kerja sawah. Selain nelayan saya juga kerja sawah untuk kebutuhan makan,” katanya.
Meski cuaca sedang tidak bersahabat, Filmon mengaku bersyukur hasil tangkapan mereka hari itu cukup baik.
“Hasil tangkapan hari ini kurang lebih sekitar Rp4 jutaan. Ini sudah lumayan banyak,” pungkasnya.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















