Puskesmas Biudukfoho mulai mengintegrasikan pelayanan keliling dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pelayanan tersebut menyasar masyarakat di sembilan desa yang menjadi wilayah kerja puskesmas.
Tim kesehatan turun ke desa secara berkala, sekitar setiap dua minggu, dengan komposisi tenaga yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan.
Langkah tersebut terutama ditujukan bagi warga yang tinggal di wilayah dengan akses sulit menuju fasilitas kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pelayanan luar gedung kami dekatkan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang aksesnya sulit. Jadi masyarakat tidak selalu harus datang ke puskesmas,” jelas Beatus.
Dengan pola tersebut, puskesmas tidak hanya menunggu pasien datang, tetapi juga mendekatkan pelayanan ke wilayah tempat masyarakat tinggal.
Puskesmas Biudukfoho juga mulai memperkuat sistem pencatatan dan pelaporan digital.
Pelayanan yang dilakukan di dalam maupun luar gedung dapat segera dimasukkan ke dalam sistem sehingga proses pelaporan tidak sepenuhnya bergantung pada pencatatan manual.
Untuk mendukung proses tersebut, pihak puskesmas mendatangkan tim teknologi informasi dari Betun guna mempelajari kebutuhan dan penguatan sistem digital.
Beatus mengatakan sistem yang dipelajari dari Program Sister Puskesmas mulai diterapkan sekitar satu bulan setelah dirinya kembali dari Gunungkidul.
“Satu bulan setelah pulang dari program Sister Puskesmas, kami sudah mulai menjalankan sistem yang kami pelajari. Tentu tidak sama persis karena kami sesuaikan dengan kondisi di sini,” ujarnya.
Saat ini, Beatus menyebut penerapan ILP di Puskesmas Biudukfoho telah mencapai sekitar 90 persen, mencakup pelayanan dalam gedung maupun luar gedung.
Program Sister Puskesmas menunjukkan bahwa pertukaran pengalaman antardaerah dapat diterjemahkan menjadi perubahan di tingkat layanan paling dekat dengan masyarakat.
Namun, capaian tersebut masih membutuhkan konsistensi. Sistem klaster, pelayanan luar gedung, digitalisasi pencatatan hingga koordinasi tenaga kesehatan harus terus dijalankan agar perubahan tidak berhenti setelah program pembelajaran selesai.
Bagi Puskesmas Biudukfoho, tantangan berikutnya bukan lagi memulai ILP, melainkan memastikan sistem yang telah dibangun benar-benar menjadi pola kerja sehari-hari.
Sebab, keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak prosedur baru diterapkan, tetapi dari apakah masyarakat merasakan pelayanan yang lebih teratur, lebih dekat dan lebih mudah diakses.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















