Laskarmalaka.com || Bencana longsor yang terjadi di Looneke, Desa Babotin, Kecamatan Botin Leobele, Kabupaten Malaka, akibat curah hujan tinggi yang terus mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir, kini semakin mengkhawatirkan. Longsor yang terjadi secara bertahap itu telah menyebabkan kerusakan serius pada sejumlah rumah warga dan memaksa sebagian keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka demi keselamatan.
Pantauan di lokasi kejadian pada Rabu (13/5/2026), sedikitnya terdapat delapan rumah warga yang terdampak langsung akibat bencana tersebut dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Ada rumah yang mengalami retakan pada bagian lantai dan tembok, ada pula yang kondisinya nyaris ambruk karena berada tepat di bibir longsoran tanah yang terus meluas.
Sebagian warga yang rumahnya mengalami kerusakan paling parah kini telah mengosongkan rumah mereka dan memilih mengungsi ke rumah kerabat yang dianggap lebih aman. Namun, beberapa warga lainnya masih bertahan tinggal di rumah meski kondisi bangunan sudah sangat mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi paling memprihatinkan terlihat pada empat rumah warga yang terpaksa dibongkar secara mandiri oleh pemiliknya. Pembongkaran dilakukan untuk menyelamatkan material bangunan yang masih bisa digunakan kembali seperti seng, bebak, kayu, dan bahan bangunan lainnya.
Rumah-rumah yang dibongkar tersebut mengalami kerusakan sangat parah. Tembok rumah pecah berantakan, sementara bagian lantai terbelah akibat pergeseran tanah yang terus terjadi setiap kali hujan turun.
Bencana longsor tersebut terjadi di RT 002 Dusun Looneke A yang dihuni sebanyak 12 kepala keluarga. Ketua RT 002 Dusun Looneke A, Margareta Lotu, mengatakan longsor bukan terjadi satu kali, tetapi terus berlangsung secara bertahap dan semakin meluas.
“Longsor ini bukan hanya terjadi satu kali, tetapi terjadi bertahap setiap kali hujan. Saat ini sudah ada delapan KK yang terkena langsung,” ujar Margareta saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurutnya, kondisi rumah warga yang terdampak sangat beragam. Ada rumah yang mengalami kerusakan berat hingga pemiliknya harus mengungsi, ada pula rumah yang kini menggantung di tepi longsoran tanah yang menganga cukup luas.
“Sudah ada empat rumah yang dibongkar untuk amankan bahan-bahan yang masih bisa dipakai karena kondisi rumahnya rusak parah. Warga pemilik rumah-rumah itu kini sudah pindah dan tinggal di rumah keluarga,” jelasnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















