Laskarmalaka.com || Di tengah tenangnya suasana Desa Umanen Lawalu, suara ayam berkokok kini bukan lagi sekadar penanda pagi. Dari kandang sederhana milik Kelompok Bagaya Umanen Lawalu, suara itu berubah menjadi tanda tumbuhnya harapan baru bagi masyarakat desa.
Kelompok yang dibina Dinas Sosial Kabupaten Malaka tersebut perlahan mulai menikmati hasil dari usaha peternakan ayam petelur yang mereka kelola bersama. Dengan 94 ekor ayam petelur, kelompok itu mampu menghasilkan sekitar 106 butir telur setiap hari.
Telur-telur tersebut kemudian dipasarkan kepada masyarakat dengan harga Rp2.000 per butir. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga desa, setiap butir telur memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai jual.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Telur-telur itu menjadi simbol perjuangan dan bukti bahwa bantuan pemerintah dapat bertumbuh menjadi sumber penghidupan ketika dikelola dengan kerja keras dan semangat kebersamaan.
Ketua Kelompok Bagaya Umanen Lawalu, Andreas Klau, mengatakan usaha peternakan tersebut mulai membantu ekonomi anggota kelompok sekaligus memberi harapan baru bagi keluarga mereka.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















