Selain persoalan irigasi, banjir juga dipicu pendangkalan akibat sedimentasi di Kali Lo’o, Kali Serin, dan Kali Solo di wilayah Lakekun–Kobalima. Kapasitas tampung sungai yang berkurang menyebabkan air mudah meluap ke lahan pertanian dan permukiman warga.
Warga mendesak agar dilakukan normalisasi sungai melalui pengerukan dan pelebaran alur agar lebih dalam serta mampu menampung debit air saat curah hujan tinggi.
Tak hanya itu, kondisi jalan yang rusak akibat banjir juga menghambat aktivitas petani, terutama saat musim panen. Padahal, Lakekun Barat dikenal sebagai salah satu wilayah penopang produksi pangan di Kabupaten Malaka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami minta balai, dinas PUPR NTT, dan Pemkab Malaka duduk bersama mencari solusi permanen agar banjir tidak terus terjadi setiap tahun,” kata Hendrik.
Masyarakat berharap ada langkah terpadu dari pemerintah provinsi, balai wilayah sungai, dan pemerintah kabupaten guna mengatasi penyebab utama banjir, melindungi lahan pertanian, serta mendukung program ketahanan pangan nasional dan daerah.***
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















