Namun di tengah minimnya perhatian dari para Pencari Bakat Nasional, langkah berbeda justru datang dari daerah sendiri.
Di bawah kepemimpinan Bupati Malaka, dr.Stefanus Bria Seran, Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu bersama Ketua PSSI Kabupaten Malaka, Adrianus Bria Seran, sepak bola kini dijadikan sebagai salah satu program prioritas pembangunan daerah. Tidak berhenti pada wacana, kebijakan itu sudah mulai diwujudkan secara konkret dengan pendirian Sekolah Sepak Bola (SSB) setiap kecamatan di Kabupaten Malaka dan dilakukan pembinaan rutin.
Langkah ini menjadi titik balik penting. Jika sebelumnya talenta lahir dari bakat alami tanpa wadah, kini mereka mulai mendapatkan ruang pembinaan yang lebih terarah. Ini adalah mimpi pemimpin yang sedang membangun sepak bola dari bawah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Artinya, Kabupaten Malaka tidak lagi hanya mengandalkan “bakat”, tetapi mulai menata sistem. Dari yang sebelumnya spontan, kini menjadi terstruktur. Dari yang berjalan sendiri tanpa wadah, kini mulai diarahkan oleh sistem.
Namun satu hal tetap menjadi catatan besar: upaya daerah tidak boleh berjalan sendiri.
Jika pemerintah daerah sudah bergerak membangun fondasi, maka PSSI dan klub-klub profesional seharusnya hadir untuk melanjutkan, memperkuat, dan membuka jalan yang lebih luas. Tanpa itu, pembinaan di daerah hanya akan berhenti di titik tertentu.
Karena jika tidak, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama: membiarkan bakat tumbuh, tetapi gagal mengantarkannya ke level tertinggi.
NTT sudah membuktikan diri.Sekarang giliran sepak bola nasional untuk tidak menutup mata.Dan pada akhirnya, jika talenta lokal terus diabaikan, jangan heran jika sepak bola Indonesia akan terus bergantung pada naturalisasi dari tahun ke tahun karena kita gagal merawat dan menemukan mutiara yang sesungguhnya sudah ada di negeri sendiri.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















