Laskarmalaka.com || Ada satu kesalahan terus dilakukan dalam sepak bola Indonesia: terlalu sering melihat ke pusat, dan lupa bahwa bakat justru tumbuh liar di pinggiran negeri. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu buktinya. Daerah yang kerap dipandang “jauh” ini justru berulang kali menunjukkan bahwa jarak tidak pernah membatasi kualitas.
Kita tidak sedang berbicara tanpa dasar. PS Malaka pernah mewakili NTT berdiri gagah di panggung nasional pada tahun 2025, menjadi runner-up Piala Presiden U-15 di Surabaya. Itu bukan sekadar cerita kejutan. Itu adalah pembuktian.
Bayangkan, dalam turnamen sebesar itu, mereka hanya kebobolan dua gol sepanjang kompetisi, Satu di fase grup saat menghadapi wakil Jawa Timur (Wirayudha), dan satu lagi di partai final melawan tim Jawa Tengah (Asti Kudus), laga yang berakhir dengan kekalahan tipis 0-1. Statistik itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari disiplin, kerja keras, dan kecerdasan bermain yang dibangun dari bawah, jauh dari sorotan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun pertanyaannya sederhana: setelah itu, apa yang berubah?
Apakah para pencari bakat mulai berdatangan ke NTT?
Apakah klub-klub profesional membuka pintu lebih lebar?
Di sinilah letak persoalannya. Sepak bola kita masih terlalu sering reaktif, bukan visioner. Kita mudah terpukau saat daerah bersinar, tetapi lambat dalam menindaklanjuti. Padahal, jika sistem scouting berjalan adil dan merata, NTT bisa menjadi lumbung pemain masa depan.
Anak-anak di Kabupaten Malaka hingga pelosok lain di NTT bermain dengan penuh energi dan lapar akan kesempatan, lapar akan panggung. Mereka tidak dimanjakan fasilitas, tetapi ditempa oleh keterbatasan. Dan justru dari situlah karakter lahir.
Sudah saatnya paradigma diubah. Para Pencari Bakat tidak boleh hanya berputar di kota-kota besar. PSSI dan klub-klub profesional harus berani keluar dari zona nyaman, menjemput potensi, bukan menunggu viral.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















