Laskarmalaka.com || Pembangunan tanggul di sepanjang Sungai Benenai mulai menunjukkan dampak positif dalam menekan risiko banjir di wilayah dataran rendah Kabupaten Malaka. Namun demikian, sedikitnya enam titik tanggul masih membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan SBS–HMS agar ancaman banjir dapat diminimalisir secara menyeluruh.
Sungai Benenai yang melintasi wilayah utara dan selatan dataran rendah Malaka selama ini menjadi sumber kekhawatiran warga setiap musim hujan. Di bagian utara, aliran sungai melewati sejumlah desa seperti Bakiruk, Angkaes, Wederok, Lamudur, Forekmodok, Naimana, Fahiluka, Lawalu hingga Motaain. Sementara di bagian selatan, sungai mengalir melalui Haitimuk, Kleseleon, Motaulun, Naas, Maktihan, Besikama, Lasaen, Fafoe, Sikun, Oan Mane hingga Umatoos.
Sejumlah titik di wilayah utara telah dibangun tanggul, di antaranya di Desa Lamudur, Forekmodok, Naimana, Fahiluka, Lawalu hingga Motaain. Kepala Desa Motaain, Ambrosius Klau, menyebut pembangunan tanggul di wilayahnya telah mencapai sekitar 600 meter. Meski demikian, ia menegaskan masih dibutuhkan tambahan tanggul sepanjang kurang lebih 1 kilometer untuk melindungi permukiman warga serta lahan pertanian, perikanan, dan peternakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jika disambungkan hingga Muara Abudenok, total kebutuhan bisa mencapai sekitar 4 kilometer. Kami berharap pemerintah daerah melanjutkan pembangunan ini karena saat hujan dengan intensitas tinggi, potensi banjir masih ada,” ujarnya, Senin (7/5/2026).
Hal senada disampaikan Kepala Desa Fahiluka, Adi Leki. Ia mengakui keberadaan tanggul di wilayah Naimana sangat membantu mengurangi risiko banjir. Menurutnya, hujan deras selama tiga hari berturut-turut tidak lagi menyebabkan banjir besar seperti sebelumnya.
“Memang ada genangan air, tetapi tidak separah dulu. Kalau tidak ada tanggul, bisa dipastikan terjadi banjir besar,” katanya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















