SBS mengibaratkan Malaka sebagai ladang yang harus diurus bersama. ASN adalah para petani yang menentukan subur tidaknya wilayah tersebut. Bila ladang diabaikan, maka tidak ada yang bisa dipanen.
Ia meminta para pimpinan perangkat daerah memastikan unit kerja mereka menjadi penggerak, bukan penghambat. Tidak boleh ada ASN yang bekerja setengah hati atau hanya hadir tanpa kontribusi.
Dalam kurun waktu 10 bulan memimpin, duet SBS–HMS telah mendorong banyak perubahan signifikan dalam tata kelola birokrasi, antara lain:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
* Penerapan CMS non-tunai untuk menutup celah kebocoran anggaran
* Penataan ulang administrasi dan efisiensi program
* Pemeriksaan intensif saluran irigasi guna mendukung produktivitas petani
* Respons cepat terhadap bencana dan kondisi darurat
* Konsolidasi internal untuk menyelaraskan ritme kerja antarperangkat daerah
Semua langkah ini menandai era baru birokrasi Malaka yang lebih tertib, akuntabel, dan berorientasi hasil.
Menutup arahannya, SBS menegaskan bahwa kemajuan Malaka ditentukan oleh kerja hari ini, bukan besok.
“Tanamlah dari sekarang. Lakukan tugasmu dengan benar. Kerja yang bermanfaat. Kalau kita menanam dengan baik, Malaka pasti akan panen kesejahteraan,” pungkasnya.
Dengan filosofi “Mau panen harus tanam”, SBS mengajak seluruh ASN untuk tidak sekadar bekerja, tetapi berkarya; tidak sekadar hadir, tetapi memberi manfaat; tidak sekadar menunggu hasil, tetapi menanam benih perubahan.
Harapan besar itu kini dititipkan pada komitmen bersama untuk membangun Malaka yang maju melalui kerja nyata yang dimulai hari ini.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















