MoU antara Malaka dan Gunungkidul mencakup masa kerja sama 2025–2030 dengan fokus awal pada pengembangan sistem kesehatan, peningkatan kapasitas SDM medis, serta tata kelola pelayanan publik. Selain kesehatan, kedua daerah membuka peluang kolaborasi sektor pendidikan, perencanaan pembangunan, hingga tata kelola pemerintahan.
Bupati Gunungkidul, Hj. Endah Subekti Kuntariningsih, menyambut baik kerja sama tersebut. “Kami merasa terhormat dapat berbagi pengalaman. Semoga kolaborasi ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di kedua daerah,” ujarnya.
Pendampingan terhadap program Sister Dinas Kesehatan dan Puskesmas ini diperkuat oleh kehadiran Prof. dr. Laksono Trismantoro, M.Sc., Ph.D., yang juga menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Ketahanan Industri Obat dan Alat Kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru besar UGM itu dikenal sebagai figur yang menjembatani dunia akademik, kebijakan publik, dan praktik industri kesehatan. Ia juga pernah menjabat Komisaris Utama PT Indofarma.
Keterlibatan PKMK UGM, menurut Pemerintah Kabupaten Malaka, menjadi penting untuk memastikan transformasi layanan kesehatan berjalan terukur dan berbasis bukti.
Sejak dimekarkan dari Kabupaten Belu pada 2013, Malaka terus mendorong penguatan layanan publik, terutama kesehatan. Bupati Stefanus menegaskan komitmennya untuk membangun dari pinggiran melalui peningkatan kualitas layanan dasar.
“Pelayanan publik yang unggul adalah wajah pembangunan. Kesehatan kami jadikan pintu masuk untuk membangun SDM Malaka yang kuat dan sejahtera,” ujarnya.
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















