Ia menjelaskan, skema ini membentuk rantai ekonomi terintegrasi. Koperasi menyalurkan pembiayaan kepada anggota, anggota meningkatkan produksi, hasilnya dipasok ke dapur MBG 3T, lalu pendapatan dari penjualan digunakan untuk mengembalikan pinjaman sekaligus menambah pendapatan rumah tangga.
Dampak ekonomi, lanjutnya, tidak hanya dirasakan petani dan peternak, tetapi juga sektor pendukung seperti transportasi dan distribusi.
“Ketika produksi meningkat, otomatis ada kebutuhan angkut, distribusi, hingga bahan bakar. Artinya, perputaran ekonomi tidak berhenti di satu titik, tetapi menyentuh banyak sektor,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Ketua Yayasan Trima Jaya Sakti, Maria Deviana R. Seran, menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai pembentukan circle ekonomi menjadi solusi konkret atas persoalan klasik masyarakat, terutama keterbatasan modal usaha.
“Kami sangat menyambut baik ide ini, karena kendala utama masyarakat memang pada dana. Potensi ada, kemauan ada, tetapi modal yang belum mencukupi. Karena itu, kami meminta agar Kopdit Swasti Sari benar-benar serius mengeksekusi pinjaman dana kepada masyarakat, sehingga program ini tidak berhenti pada konsep saja,” ujarnya.
Maria menegaskan, dukungan permodalan yang tepat sasaran akan mempercepat perputaran ekonomi di tingkat rumah tangga. Dengan demikian, anggota tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menggerakkan ekonomi di lingkungannya.
Ia juga berharap proses penyaluran pinjaman dilakukan secara transparan, terukur, dan berkelanjutan agar mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah di Kabupaten Malaka.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















