Laskarmalaka.com || Di tengah wajah kekuasaan yang sering identik dengan kemewahan dan jarak dari rakyat, sosok Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), justru menghadirkan pemandangan yang berbeda bahkan mungkin langka. Sebuah Rosario sederhana yang setia tergantung di lehernya, menjadi penanda yang tak pernah absen dalam setiap langkah pengabdiannya.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya simbol kecil. Namun bagi masyarakat yang melihatnya dari dekat, Rosario itu menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar benda religius, melainkan cerminan dari cara seorang pemimpin memaknai kekuasaan: bukan sebagai alat untuk ditinggikan, tetapi sebagai ruang untuk melayani.
Di tengah tekanan politik, tuntutan pembangunan, dan kompleksitas persoalan daerah, tidak mudah menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan nurani. Banyak pemimpin terjebak pada ambisi, lupa bahwa jabatan sejatinya adalah titipan, bukan kepemilikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, simbol sederhana yang melekat pada SBS seakan menjadi pengingat yang tak pernah diam bahwa setiap keputusan harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan.
Ia menyampaikan pesan bahwa kepemimpinan tidak cukup dibangun dengan kecerdasan dan keberanian, tetapi juga dengan ketulusan dan iman. Bahwa di balik setiap kebijakan, harus ada doa yang mendahului, dan harapan yang menyertai.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















