Ia seakan ingin mengatakan: jembatan ini harus selesai dulu, baru saya datang, bukan sekadar datang, tapi datang dengan janji yang ditepati.
Di antara warga, seorang ibu tampak menyeka matanya. Entah karena panas matahari atau karena sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Mungkin ia teringat hari-hari ketika harus menggendong anaknya menyeberangi arus deras. Mungkin ia mengingat ketakutan setiap kali air naik. Atau mungkin, untuk pertama kalinya, ia melihat harapan yang tidak lagi jauh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sudut lain, anak-anak berdiri di atas batu, melambai ke arah seberang. Mereka tertawa, belum sepenuhnya mengerti arti jembatan, tapi cukup tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di kampung mereka.
SBS hanya berdiri sebentar. Ia meninjau, memastikan, lalu kembali. Tidak ada seremoni. Tidak ada panggung. Hanya suara, air, dan janji yang melintasi jarak.
Namun justru di kesederhanaan itu, ada sesuatu yang menyentuh.
Karena kadang, kepemimpinan tidak selalu tentang hadir di tengah keramaian, tetapi tentang tahu kapan harus menunggu, hingga sesuatu benar-benar siap untuk diresmikan, bukan sekadar diucapkan.
Mei nanti, jika jembatan itu sudah selesai, SBS akan menyeberang.
Dan mungkin, saat kakinya pertama kali menginjak tanah Numbei tanpa harus melawan arus, bukan hanya dirinya yang menyeberang.
Tapi juga harapan warga, yang selama ini tertahan di seberang.
Hari itu, kali tidak lagi menjadi pemisah.Ia akan menjadi saksi, bahwa penantian panjang akhirnya menemukan ujungnya.
Dan dari seberang yang dulu terasa jauh, kini hanya tinggal beberapa langkah saja.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















