Laskarmalaka.com || Di tepi kali Benenai yang tak pernah benar-benar tenang, suara itu melayang, terbawa angin, menyusup di antara riak air yang selama ini memisahkan harapan dan kenyataan.
Di satu sisi berdiri dr. Stefanus Bria Seran, Bupati Malaka yang akrab disapa SBS. Di sisi lain, warga Numbei berkerumun, menunggu, menatap, seolah jarak itu bukan sekadar bentangan air, melainkan sejarah panjang keterisolasian yang belum sepenuhnya usai.
SBS tidak menyeberang hari itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia berdiri di seberang, menggenggam pengeras suara. Lalu suaranya pecah, lantang namun terasa hangat:
“Bulan Mei, saya baru ke Numbei… kalau jembatan sudah jadi!”
Sejenak hening. Kali tetap mengalir seperti biasa. Namun di wajah-wajah yang menatap dari seberang, ada sesuatu yang bergerak, getar yang sulit dijelaskan.
“Ia… Bapak Bupati!” sahut warga serentak.
Jawaban itu bukan sekadar respons. Ia adalah gema dari kepercayaan yang perlahan tumbuh, dari luka lama yang mulai sembuh, dari janji yang sedang dibangun bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan baja, tali, dan kerja keras di atas arus yang tak pernah tidur.
Jembatan gantung Numbei memang belum selesai. Tiang-tiangnya masih berdiri setengah jadi, kabel-kabelnya masih dirangkai. Tapi bagi warga, ia sudah lebih dari sekadar proyek.
Ia adalah mimpi yang akhirnya memiliki bentuk.
Selama bertahun-tahun, kali itu adalah batas. Saat musim hujan datang, ia berubah menjadi ancaman. Anak-anak tak bisa sekolah, orang sakit terjebak di rumah, hasil kebun tak bisa dijual. Air bukan lagi sumber kehidupan, melainkan penghalang yang memisahkan mereka dari dunia luar.
Hari itu, ketika Bupati berdiri di seberang tanpa menyeberang, justru di situlah makna menjadi terasa lebih dalam.
Halaman : 1 2 Selanjutnya



Ikuti Kami
Subscribe


















