ABS menegaskan bahwa Partai Golkar memiliki mekanisme internal dalam menentukan kandidat yang akan diusung, baik dalam Pilkada maupun Pemilu Legislatif.
“Dalam tradisi Partai Golkar, dalam mengusung kandidat untuk Pilkada dan Pileg harus melalui survei,” kata ABS.
Karena itu, menurut dia, kader yang ingin maju sebagai calon bupati, wakil bupati maupun calon anggota legislatif perlu mulai membangun komunikasi dan melakukan konsolidasi dengan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jadi bagi kader partai yang mau jadi calon bupati, wakil bupati dan calon DPR harus siapkan diri dan konsolidasi di masyarakat sehingga bisa dikenal agar dalam survei Partai Golkar bisa lolos,” ujarnya.
ABS sendiri menyatakan siap apabila pada waktunya mendapat mandat dari Partai Golkar.
“Sebagai kader Partai Golkar tentu saya harus siap. Karena jika diberi mandat partai, harus siap menerima mandat,” tegasnya.
Meski demikian, ABS menekankan bahwa agenda utama Partai Golkar saat ini bukan semata-mata membicarakan kandidat Pilkada 2030.
Menurut dia, konsolidasi organisasi hingga ke tingkat bawah menjadi pekerjaan yang harus dilakukan sejak sekarang.
“Tugas kita saat ini harus konsolidasi sejak saat ini, mulai dari kabupaten, kecamatan, desa dan dusun. Struktur kepengurusan harus dilengkapi sebagai mesin partai,” katanya.
Ia mengatakan konsolidasi tersebut merupakan tindak lanjut arahan Partai Golkar di tingkat provinsi maupun Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Dengan demikian, pembicaraan mengenai regenerasi kepemimpinan menuju Pilkada 2030 mulai muncul di internal Golkar Malaka. Namun, siapa yang nantinya akan mendapatkan mandat sebagai calon tetap bergantung pada mekanisme internal partai, termasuk proses survei dan keputusan resmi Partai Golkar.**
Halaman : 1 2



Ikuti Kami
Subscribe


















